Terpopuler:

Sejarah kopi Indonesia

11 May 2016 - Kategori Blog

Awal mula sejarah kopi dunia

sejarah-kopi-Indonesia

 

Kopi merupakan salah satu jenis minuman yang ditemukan tanpa sengaja. Sejarah kopi berawal dari 3000 tahun yang lalu di sebuah negeri Etiopia saat seorang penggembala yang memperhatikan bahwa hewan gembalanya tetap terjaga setelah matahari terbenam setelah memakan buah dari tanaman kopi. Penemuan ini terus menyebar hingga penduduk Etiopia seringkali menggunakan buah kopi yang dicampur anggur dan lemak binatang sebagai seplemen penambah energi. perlahan, budaya ini terus menyebar ke seluruh dunia hingga sekarang.

Sejarah kopi mencatap bahwa teknik penyajian kopi terus mengalami perkembangan. Variasi dari jenis kopi pun bertambah dengan penggemar yang berbeda beda.

Sejarah kopi di Indonesia

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia. Beberapa jenis kopi yang tumbuh di Indonesia bahkan menjadi salah satu varian kopi yang disukai pecinta kopi secara global. Jika anda pecinta kopi, maka tidak ada salahnya untuk mengenal sedikit mengenai sejarah perkopian di nusantara ini.

Sejarah kopi di Indonesia berawal pada zaman penjajahan Belanda, Sejarah kopi Indonesia berawal dari gubernur Belanda di Malaber (Hindia) yang mengirim benih kopi Arabika Yemeni ke seorang gubernur Belanda di Batavia (sekarang bernama Jakarta) pada tahun 1696. Pengiriman benih yang pertama ini gagal karena terjadi bencana banjir di Batavia. Pengiriman benih yang kedua dilakukan beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1699.

Pada tahun 1711, VOC melakukan pengiriman ekspor kopi yang pertama dilakukan dari Jawa ke Eropa. Dalam kurun waktu 10 tahun, ekspor kopi meningkat hingga 60 ton per tahun. Indonesia mendapat peringkat pertama sebagai negara yang memiliki perkebunan kopi yang luas pada saat itu.

Pada abad ke 18, kopi yang dikirim dari Batavia dijual dengan harga 3 Gulden per kilogram di Amsterdam. Diakhir abad ke 18, harga kopi menurun hingga 0.6 Gulden per kilogram sehingga budaya konsumsi kopi mulai menyebar dari kaum elit ke masyarakat luas.

Perdagangan kopi merupakan bisnis yang menguntungkan bagi VOC, tapi tidak bagi para petani Indonesia yang dipaksa untuk menanam kopi. Secara teori, produksi kopi kualita ekspor dimaksudkan untuk menyediakan uang bagi para petani lokal untuk membayar pajak mereka. Sistem ini dikenal dengan Cultuur Stelsel atau Sistem Pertanian. Sistem ini pertama diterapkan di daerah Preanger, Jawa Barat. Namun pada kenyataannya, harga yang ditetapkan pemerintah Belanda terlalu rendah dan juga pengalihan tenaga buruh dari pertanian padi ke perkebunan kopi juga membuat warga Indonesia semakin terpuruk.

Kondisi Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa merupakan tempat yang tepat untuk menanam kopi. Hasilnya, pemerintahan Belanda mendapatkan banyak keuntungan dari setiap panen kopi yang dikerjakan oleh kaum pribumi. Sayangnya, pribumi tidak mendapatkan keuntungan dari hasil panen yang melimpah tersebut. Perkebunan kopi dapat berjalan dengan mempekerjakan para petani padi. Namun, sejarah kopi di negeri kita mulai membaik.

Tak lama setelah seorang pejabat Belanda bernama Eduard Douwes Dekker menulis sebuah buku yang berjudul Max Havelaar & Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda pada tahun 1860, perlakuan tak adil yang diterima para penduduk Indonesia dibawah kekuasaan pejabat Belanda mulai diketahui banyak pihak. Hal ini membalikkan keadaan sehingga warga pribumi mendapatkan perlakuan yang lebih adil dan merata.

Hingga hari ini, lebih dari 90% dari produksi kopi Indonesia dihasilkan dari perkebunan kecil yang diolah dengan sistem yang alami. Para petani kopi ini bekerjasama untuk mengekspor hasil kopi tersebut yang telah mendapatkan sertifikat internasional.

Namun masalah yang dihadapi para petani kopi lokal tidak berhenti sampai disitu. Wabah yang terjadi di akhir tahun 1880an menghancurkan banyak tanaman arabika di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejarah kopi Indonesia tidak berhenti sampai disitu. Kejadian ini memaksa pemerintah Belanda untuk mengganti jenis kopi yang ditanam menjadi jenis Liberica dan Robusta. Varian Liberica adalah pilihan yang gagal karena tanamannya yang sulit untuk dirawat dan rasa kopinya yang tidak terlalu enak. namun kopi jenis Robusta sukses menjadi salah satu primadona dari hasil kopi Indonesia, khususnya dari daerah Sumatra.. Tidak seperti Arabika, hasil panen Robusta merupakan kombinasi dari biji kopi yang matang dan mentah, sehingga menghasilkan rasa kopi yang lebih pahit daripada jenis Arabika.

Kopi Robusta ini banyak disukai khususnya orang orang dari Amerika Utara. bahkan varian ini terjual di bursa saham New York. Kopi ini juga banyak digunakan sebagai bahan kopi instan dan juga komponen penting untuk membuat espresso.

Untungnya, tanaman Arabika dapat tumbuh kembali di tanah indonesia. Pulau Jawa bahkan memiliki wilayah yang khusus digunakan sebagai perkebunan kopi dan juga menjadi sumber dari salah satu jenis kopi yang terkenal, yaitu kopi luwak (yang sebetulnya cukup mahal untuk sesuatu yang berasal dari kotoran hewan). Area lain di Indonesia yang dikenal karen hasil kopinya adalah bali. Penduduk Bali menggunakan filosofi yang unik dalam proses penanaman kopi. Ajaran yang berasal dari filosofi hindu ini menganggap bahwa seluruh petani merupakan anggota dari sebuah sistem pertanian yang disebut Subak Abian, dimana terdapat tiga hal yang berbuah kebahagiaan, yaitu hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Sebuah filosofi yang patut dicontoh bukan!!

Sejarah kopi di nusantara ini akan terus bertambah seiring waktu. Dunia akan terus mengenal kenikmatan kopi yang terlahir dari penjajahan yang pernah menginjakkan kakinya di Indonesia.

,

UA-80776017-1